Belajar Ikhlas (The Inspiring Stories)

Berikut ada dua bua cerita yang mungkin saja diantara Anda ada yang sudah pernah membacanya. Namun demikian tidak ada salahnya apabila kita baca kembali karena cerita ini sangat inspiring terutama bagi kita yang ingin belajar tentang hakekat ikhlas. Apa yang nampak dari luar belum tentu mencerminkan keadaan atau kondisi yang sebenarnya. Let’s check it out…!!!

Cerita 1 :

Ada seorang anak kecil, sebut saja namanya Adi. Dia memiliki seorang nenek yang lumpuh dan tinggal bersamanya.

Setiap hari Adi lah yang merawat neneknya. Kadang dia merasa tidak adil dengan keluarganya yang lain yang tidak memiliki kewajiban untuk merawat neneknya. Suatu waktu, Adi mengeluh pada ibunya:
“Ma, kenapa hanya aku yang merawat nenek? Tidak bisakah mama, papa, kakak dan adik turut mengurus nenek?”
Ibunya menjawab, “Nak, ikhlas ya sayang, merawat nenek pahalanya besar nak.”

Untuk sementara Adi menurut mendengar kata mamanya. Tapi untuk kesekian kali rasa iri kembali menyergapnya. Adi kembali bertanya pada mamanya,
“Ma, kenapa mama, papa, kakak dan adik tidak bergantian denganku untuk merawat nenek? Aku cape, aku lelah. Sekali saja ma.”

Mamanya kemudian tertunduk dan berkata sambil menangis.
“Kamu benar-benar ingin tahu sayang?”
“Iya ma.” Jawabnya.
“Nak, kamu sudah besar sekarang. Sudah saatnya kamu tahu hal ini.
Kajadian ini terjadi saat kamu masih bayi. Waktu itu rumah kita terbakar. Kami semua secepat mungkin keluar dari rumah dan membawa barang-barang yang bisa kami selamatkan. Mama hanya bisa membawamu.
Tapi saat mama sadar, mama ternyata tidak menggendongmu nak, yang mama bawa ternyata bantal guling. Kamu masih tertinggal dirumah dengan kobaran api yang makin membesar. Sangat tidak mungkin menerobos ke dalam rumah untuk menyelamatkanmu.
Tiba-tiba seseorang menerobos masuk kedalam kobaran api. Dialalah nenekmu. Dia berhasil menyelamatkanmu tapi dengan bayaran badannya lumpuh seumur hidup.”

Sejak itu, Adi lebih senang merawat neneknya. Bahkan menurutnya, tak ada hal yang lebih menyenangkan selain merawat neneknya.

Cerita 2 :

Didalam sebuah kereta yang sedang melaju kencang, ada seorang bapak dengan 3 orang anak kecil. Mereka tampak riang bercanda kesana kemari dan tertawa. Bahkan sesekali membuat kegaduhan di dalam kereta.

Salah seorang ibu merasa terganggu dan menegur sang bapak.
“Pak, apa ketiga anak ini anak bapak? Bisakah bapak menenangkan mereka?”
Kemudian bapak itu menjawab,
“Saya tidak tega bu, saya kasihan dengan mereka.”
Ibu itu heran, sebelum ibu itu bertanya kembali, bapak itupun melanjutkan.
“Saya belum pernah melihat mereka seceria itu sebelumnya.
Sebulan yang lalu kedua orang tua mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Setelah kejadian itu, ketiganya selalu murung. Berbagai cara saya lakukan agar mereka kembali ceria. Tapi tanpa sebab, ketiganya bisa tertawa kembali, ceria seperti sebelumnya. Oleh karena itu, saya benar-benar tak tega menenangkan mereka.”

Saat itu, semua penumpang yg mendengar bapak itu termenung sebelum akhirnya tersenyum melihat ketiganya yg sedang tertawa lepas. Di wajah penumpang lainnya tidak lagi tergores wajah yang cemberut, ataupun merasa risih dengan tawa riang tiga bocah itu. Malah sebagian dari mereka ikut menghibur bocah-bocah yatim piatu itu. Jika kita tahu alasan bocah-bocah itu sangat riang, kitapun akan turut tersenyum.

Tentang Admin

Panohan adalah sebuah desa kecil di kecamatan Gunem Kabupaten Rembang - Jawa Tengah. Menyimpan banyak potensi wisata alam yang belum tergali secara optimal. Sarana transportasi masih menjadi kendala utama untuk menjangkau daerah ini. Melalui blog ini saya mengajak semua pihak untuk mempromosikan potensi wisata alam PANOHAN
Pos ini dipublikasikan di Psychology dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s